Tuesday, May 10, 2011
Monday, May 12, 2008
KOMUNIKASI ILMIAH SEBAGAI AJANG PERTUKARAN INFORMASI SECARA ILMIAH
Oleh: Fitriana Tjiptasari & Erni Susilowati
A. Pendahuluan
Bulan April lalu harian Kompas melaporkan masalah penerbitan majalah
ilmiah atau jurnal sebagai wahana komunikasi ilmiah di lingkungan pendidikan tinggi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono, guru besar Fakultas Sastra UI. Disinyalir bahwa di kalangan dosen, yang seharusnya menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah, terlalu banyak terlibat dalam berbagai aktivitas di luar kampus. Akibatnya, kegiatan penulisan ilmiah yang bertujuan mengembangkan IPTEK menjadi terabaikan. Terbitan jurnal sebagai wahana komunikasi ilmiah dan sekaligus tolak ukur kemajuan IPTEK di lingkungan perguruan tinggi, akhirnya kurang mendapat perhatian
Sejarah tradisi komunikasi ilmiah antar para ilmuwan sudah dimulai di Eropa sejak abad 12 dan 13, dimulai dari Italia kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Utara, dalam sebuah periode yang dikenal dengan nama Renaisans. Renaisans artinya kebangkitan kembali minat pada kebudayaan Yunani dan Romawi. Minat tersebut ditandai dengan munculnya berbagai karya seni dan ilmu. Mereka yang bergerak dalam bidang ilmu seringkali melakukan hubungan dengan ilmuwan lain dengan tujuan mengetahui kegiatan yang dilakukan, penelitian yang sedang dilakukan, memberitahukan hasil penelitian yang tengah dilakukan, mencari informasi dan sebagainya (Sulistyo-Basuki, 1995: 32).
Tradisi komunikasi ilmiah ini didukung oleh oleh semboyan ”publish or perish”, yang demikian melekat dalam budaya akademik mereka. Sehingga faktor inilah yang ikut memacu para ilmuwan untuk melakukan komunikasi dengan ilmuwan lain melalui jurnal ilmiah. Ilmuwan Barat menjadi penyumbang terbesar jurnal ilmiah dunia. Dibuktikan dengan sekitar 3.300 judul ilmiah dari berbagai negara yang tercakup dalam Science Citation Index (SCI), 30,82 persen berasal dari para ilmuwan Amerika. Sementara prosentase ilmuwan Inggris dan Jerman masing-masing adalah 7,92 persen dan 7,18 persen (Darmono, 1996:1).
B. Komunikasi Ilmiah
Perguruan tinggi berperan penting dalam menyebarkan informasi karena sebuah komunikasi informasi merupakan hal mendasar bagi terselenggaranya sebuah hubungan positif yang diharapkan. Hubungan antara peneliti dengan pihak lain; teman sejawat, mahasiswa, orang yang memanfaatkan penelitian. Karena informasi yang digunakan dengan sebaik-baiknya akan mempersatukan masyarakat. Komunikasi informasi harus dikelola dengan baik, karena dalam proses komunikasi terdapat gangguan yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan sesuatu arah komunikasi yang salah.
Komunikasi informasi pada perguruan tinggi yang dilakukan, merupakan serangkaian komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah adalah sebuah sistem dimana penelitian dan kegiatan ilmiah lain yang dilakukan, ditulis, dievaluasi kualitasnya, disebarkan kepada komunitas ilmiah lain, dan dipertahankan untuk kepentingan masa yang akan datang. Komunikasi ilmiah meliputi komunikasi formal, seperti penerbitan jurnal-jurnal ilmiah; dan komunikasi informal seperti penggunaan media elektronik, penyelenggaraan seminar-seminar.
Aktifitas keilmuan -penelitian- yang dilakukan akan disebarkan dan diinformasikan kepada khalayak biasanya menginformasikan tentang hasil penelitian, metode yang digunakan, proses yang dijalankan dan produk yang dihasilkan. Penemuan-penemuan ini di sebarkan dan dievaluasi oleh teman sejawat ataupun oleh mahasiswa. Dalam penyebarannya sangat dibutuhkan keberadaan komunikasi ilmiah formal maupun yang informal, yang berada pada dataran lokal ataupun dalam skala nasional. Menurut Kauffer dan Carley (Fjallbrant, 2005:2), terdapat beberapa aspek akademis kenapa perlu diadakan penulisan hasil penelitian:
1. kepemilikan sebuah ide
2. pengakuan masyarakat terhadap penemuan penelitian
3. klaim atas sebuah hasil penemuan
4. membuat komunitas profesional antara penemu dan pembacanya
C. Komunikasi Ilmiah Formal
Komunikasi ilmiah formal lazimnya dilakukan dengan melalui media-media penerbitan berkala, seperti jurnal ilmiah. Garvey, dalam Communication the Essense of Science, Pergamon Press, 1989 (Darmono, 1996:3) menyatakan bahwa komunikasi ilmiah melalui jurnal ilmiah merupakan hal yang amat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui jurnal ilmiah, temuan baru dari peneliti dan ilmuwan dikomunikasikan ke masyarakat, guna mendapat tanggapan, dikembangkan dan disempurnakan oleh ilmuwan lain, sehingga kesempurnaan dan kebenaran ilmunya menjadi lebih baik. Jika ditarik lebih jauh, kehadiran berbagai jurnal ilmiah dalam masyarakat akademik juga merupakan investasi jangka panjang untuk memacu meningkatkan sumber daya manusia. Setiap penerbitan jurnal mempunyai kekuatan ganda, yaitu sebagai dokumentasi iptek dan sekaligus sarana penyebarannya.
Menurut Fjallbrant (2005:2), terdapat beberapa keuntungan penggunaan penerbitan tercetak untuk menyebarkan komunikasi ilmiah ini:
1. informasi dalam penerbitan tercetak dapat disebarkan lebih luas kepada kelompok-kelompok pembaca
2. informasi yang disajikan lebih detil, seperti deskripsi metode penelitian, penggunaan tabel-tabel, diagram, hasil-hasil penelitian, yang tentunya akan lebih mudah untuk dipahami
3. dokumen tercetak berisikan informasi yang lengkap sehingga memudahkan evaluasi dan penambahan informasi yang dibutuhkan
4. ketika dibutuhkan dokumen ini dapat dengan mudah diserahkan
5. penerbitan karya ilmiah ini sebagai wujud penegakan kepentingan akademik, penelitian, dan bagaimanapun sebagai faktor penting yang memberikan kontribusi positif terhadap peneliti.
Menurut Sulistyo-Basuki (1995:35-36) sebagai sebuah sistem komunikasi, maka komunikasi ilmiah formal memiliki keuntungan sebagai berikut:
- komunikasi formal bersifat terbuka sehingga kehadirannya lebih besar;
- penyebaran informasi relatif lebih luas dan lebih murah daripada komunikasi informal;
- informasi yang disimpan melalui komunikasi formal lebih permanen, menjadi ”arsip umum” dan lebih mudah ditemukan;
- informasi yang disebarkan sudah melalui pemeriksaan wasit majalah, karenanya sudah sudah disesuaikan dengan standar disiplin ilmu yang bersangkutan. Demikian pula dengan cara penyajiannya termasuk penulisan artivgf dan daftar kepustakaan, sudah disesuaikan dengan pedoman yang lazim berlaku untuk membaca dari kalangan tertentu;
- komunikasi formal cenderung mengarah pada kepentingan pembaca luas.
Sedangkan kerugian komunikasi formal adalah seperti:
- usia informasi yang disebarkan melalui komunikasi formal umumnya lebih tua daripada informasi yang disebarkan melalui komunikasi informal. Hal ini terjadi karena frekuensi penerbitan majalah tidak sama, adanya waktu tunggu untuk diterbitkan, dan redaksi harus menunggu naskah yang masuk;
- seringkali terjadi pengulangan-ulangan inti makalah walaupun judulnya berbeda dan majalah yang memuatnya pun berlainan.
Indikator mengenai sumbangan ilmuwan Indonesia dalam komunikasi ilmiah melalui artikel ilmiah bisa dilihat pada indeks SCI. Pada tahun 1994, misalnya, persentase sumbangan ilmuwan Indonesia dalam pemgembangan iptek dunia adalah 0,012 persen. Angka ini jauh di bawah sumbangan ilmuwan negara-negara ASEAN lainnya seperti Filipina :0,035 persen, Malaysia: 0,064 persen, Thailand: 0,086 persen, dan Singapura: 0,179 persen (lihat Scientific American, Agustus 1995) (Darmono; 1996:2).
Masih menurut Fjallbrant, 2005:6, terdapat beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan dalam penyebaran komunikasi ilmiah ini:
1. ilmuwan. Mereka berharap bahwa karyanya dapat dipublikasikan, berperan sebagai produsen utama penghasil karya ilmiah.
2. ilmuwan sebagai pembaca hasil karya produsen utama.
3. mahasiswa, yang juga sebagai pembaca.
4. publik yang berminat terhadap hasil karya ilmiah. Berperan sebagai pembaca.
5. penerbit sebagai produsen kedua, yang berkepentingan untuk menerbitkan karya produsen utama.
6. perpustakaan, sebagai tempat di mana koleksi tersebut dikumpulkan dan disebarkan kepada pembaca, berfungsi sebagai fasilitator.
7. penjual, mempunyai kepentingan menjual terbitan tercetak kepada publik, berfungsi sebagai fasilitator.
8. sebuah organisasi yang mengurusi masalah penemuan-penemuan dan pengurusan hak cipta ilmuwan. Berfungsi sebagai konsumen.
9. kelompok industri, yang mempunyai kepentingan memanfaatkan hasil penelitian. Berfungsi sebagai konsumen.
10. kelompok akademik, mempunyai kepentingan untuk memilih dan mengevaluasi staf. Berfungsi sebagai konsumen dan fasilitator.
11. kelompok agama. Pada abad 17-18, kelompok ini sebagai pengontrol ilmuwan ketika mengadakan penelitian.
D. Komunikasi Ilmiah Informal
Perkembangan penerbitan cetak ternyata lamban laut memakan biaya produksi yang sangat tinggi, namun sementara itu penggunaan komputerisasi dan ongkos komunikasi mengalami penurunan. Komunikasi ilmiah informal lazimnya dilakukan dengan menggunakan sebuah media contohnya media elektronik, audio visual. Ada beberapa alternatif media yang daapt digunakan sebagai media penyebaran karya ilmiah dengan menggunakan penerbitan elektronik. Yang termasuk ke dalamnya sebagai contoh disket, CD-ROM, CD-I, atau pembuatan full teks tanpa memasukkan grafik, table, atau gambar, yang kemudian dilayankan secara online melalui sistem jaringan
Menurut Sulistyo-Basuki (1995:37) komunikasi ilmiah informal memiliki beberapa keuntungan seperti:
- informasi yang dipencarkan relatif lebih muda usianya dan lebih mutakhir daripada informasi yang disebarkan melalui komunikasi formal. Penyebaran informasi secara informal tidak perlu menunggu saat terbitnya sebuah majalah;
- informasi yang diberikan disesuaikan dengan keperluan pemakai sehingga tidak perlu mengikuti standar tertentu;
- informasi yang diberikan isinya lebih padat dan ringkas daripada informasi melalui komunikasi ilmiah formal karena pada informasi informal terjadi tatap muka antara pemberi informasi dengan pemakai informasi. Terjadi interaksi langsung antara pencetus informasi dan pemakai informasi sehingga memungkinkan penambahan informasi ataupun diskusi informal.
Sedangkan kerugiannya adalah:
- penyebaran informasi terbatas pada hadirin yang kecil jumlahnya;
- informasi yang disebarkan hanya disimpan untuk sementara waktu saja sehingga sulit atau tidak mungkin ditemukan kembali;
- karena penyebaran informasi tidak menggunakan standar tertentu serta tidak tercetak maka tidak ada pembakuan penyebaran informasi mauapun penyajiannya;
- pada komunikasi informal, peranan penyebar informasi lebih dominan daripada penerima informasi.
Pada masa sekarang internet merupakan sebuah solusi, atas alternatif yang baik untuk mengadakan penyebaran atas karya ilmiah. Menurut Fjallbrant (2005:13) ada beberapa kelompok yang memiliki kepentingan terhadap penerbitan jurnal elektronik ini:
- peneliti pada bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan medicine. Mereka bertindak sebagai peneliti (produsen utama) juga konsumen (pembaca)
- dosen-dosen
- mahasiswa
- masyarakat umum yang berminat
- penerbit jurnal
- ahli komputer dan komunikasi
- vendor-agen penjualan buku
- toko buku
- pustakawan, mereka yang bekerja di perpustakaan akan membeli jurnal dalam jumlah yang besar
- universitas, mereka berperan untuk meneliti dan menyeleksi staff
- organisasi penyandang modal, modal sangat diperlukan untuk penelitian, sehingga mereka berperan dalam penelitian ini
- kelompok industri, mereka berperan dalam menggunakan hasil penelitian
- kelompok yang mengurusi masalah hak cipta
- kelompok agama, dewasa ini kelompok agama mempunyai peranan untuk mengontrol lajunya penelitian, seperti contoh penolakan clonning manusia
- politik, kelompok ini berperan untuk melancarkan proses penelitian dengan memanfaatkan teknologi jaringan untuk penyebaran informasinya
Daftar Pustaka
Darmono, 1996. Komunikasi Ilmiah Melalui Jurnal Mengapa Kita Tertinggal?. Dalam http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/08/02/0050.html, diakses pada tanggal 4 Desember 2005, pukul 14.05.
Fjallbrant, Nancy. 2005. Scholarly communication-historical development and new possibilities. Dalam http://www.iatul.org/conference/proceedings/vo107/papers/full/nfpaper.html, diakses pada tanggal 2 januari 2005, pukul 13.20
Sulistyo-Basuki, 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
--------------------, 1995. Komunikasi Ilmiah dan Manfaatnya bagi Tenaga Pengajar dan Mahasiswa. Sebuah makalah dalam Seri Pengembangan Perpustakaan: Mempertanyakan Keberadaan Perpustakaan Kita.
Wednesday, July 05, 2006
Hidup Lebih Sehat
30 menit sebelum makan pagi : 1 gelas 2,5 jam setelah makan pagi : 1 gelas 30 menit sebelum makan siang : 1 gelas 2,5 jam setelah makan siang : 1 gelas 30 menit sebelum makan malam : 2 gelas 2,5 jam setelah makan malam : 1 gelas 30 menit sebelum tidur : 1 gelas
Minum air sebelum makan memiliki dua kepentingan : 1. Akan mengurangi nafsu makan karena perut anda terasa penuh. 2. Memberikan manfaat positif bagi pencernaan anda.
* Menghindari sikap negatif untuk hidup yang lebih sehat :
Perasaan-perasaan mematikan berpengaruh terhadap kesehatan tubuk kita. Dampak-dampak dari perasaan-perasaan mematikan yang tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya adalah :
KEMARAHAN, dapat menyebabkan :
-Rheumatoid arthritis -Serangan jantung -Penyakit jantung -Gagal jantung -Kanker -Tekanan darah tinggi -Stroke -Tukak lambung
Dr. Robert Eliot, seorang ahli kardiologi ternama, menemukan bahwa ketika "para pereaksi panas" itu memendam perasaan-perasaan mereka, itu pada
akhirnya berubah menjadi permusuhan dan kemarahan. Ketika itu terjadi, tekanan darah meningkat tajam, resiko serangan jantung dan stroke akan lebih tinggi. Maka, lepaskan kemarahan dan mintalah pengampunan, jangan menyimpan kemarahan sampai matahari terbenam.
KEBENCIAN dan IRI HATI, dapat menyebabkan :
-Tekanan darah tinggi -Sakit kepala migran -Penyakit jantung -Tukak lambung -Kanker.
Ketika seseorang mengalami kemarahan yang berlebihan, kekhawatiran dan stress yang diakibatkan oleh kebencian, tingkat adrenalinnya meningkat, tekanan darah juga meningkat dan dengan begitu jantung-khususnya serangan jantung- bertambah bagi mereka yang hidup dalam kemarahan. Orang-orang itu menghadapi resiko penyakit jantung dua kali lebih tinggi disbanding orang lain. Sebagai tambahan, ketika seseorang mengalami kekecewaan, kemarahan
atau ketakutan saat makan, perasaan-perasaan negatif ini merangsang system saraf simpatiknya, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya pengeluaran enzim-enzim pancreas, yang menciptakan kesulitan dalam pencernaan makanan. Ini menyebabkan perut kembung, adanya gas, sakit ulu hati, dan masalah pencernaan lainnya. Stress yang berlebihan yang disebabkan oleh perasaan-perasaan negatif cukup berbahaya karena itu meningkatkan tingkat kortisol kita, yang kemudian menekan system kekebalan tubuh kita. Ketika
system kekebalan kita tertekan, sel kanker mulai terbentuk dan berkembang. Kebencian dan iri hati merupakan perasaan-perasaan yang merusak.
KESOMBONGAN, dapat menyebabkan :
-Penyakit mental -Stroke -Serangan jantung -Kematian
Menurut pandangan saya, perasaan yang paling mematikan adalah kesombongan. Kerendahan hati dan ucapan syukur kepada Pencipta akan melindungi anda dari perasaan yang paling mematikan - kesombongan.
KETAKUTAN dan KEKHAWATIRAN, dapat menyebabkan :
-Penyakit jantung -Penyakit mental -Kepanikan -Depresi -Serangan jantung -Fobia.
Tubuh anda bias menanggapi ketakutan dan kekhawatiran dengan memicu pelepasan hormon adrenalin secara berlebihan, yang menyebabkan percepatan denyut jantung, penigkatan ventilasi paru yang abnormal, telapak tangan
berkeringat, dan meningkatnya kontraksi system pencernaan. Ketakutan dan kekhawatiran yang berkesinambungan dapat menyebabkan keadaan peningkatan ini terjadi terlalu lama, dan dapat menyebabkan kelelahan adrenalin, kelelahan, kegelisahan dan kepanikan, gejala sulit buang air besar dan sakit kepala karena ketegangan. Kelelahan fisik dan emosional dan kelemahan system kekebalan tubuh anda dapat terjadi, dan hasil akhirnya adalah penyakit.
DEPRESI, dapat menyebabkan :
-Kanker
Penelitian telah menunjukkan bahwa pria memiliki kecenderungan untuk melepaskan kemarahan mereka, sementara wanita cenderung menyembunyikannya. Adalah benar bahwa kanker dapat menyerang semua orang, tetapi salah satu factor yang paling umum yang ditemukan para peneliti sebelum kanker menyerang adalah 'kurangnya penyaluran emosi'. Ibu rumah tangga memiliki peluang 54% lebih besar terkena kanker dibanding populasi pada umumnya dan 157% lebih besar dibanding dengan para wanita yang bekerja di luar rumah.
* Langkah-langkah untuk mengembangkan hati yang gembira untuk menghasilkan kesehatan yang baik dan jauh dari penyakit :
Mengampuni Mengendalikan lidah Bersahabatlah dengan orang-orang yang positif Berilah makanan yang sehat ke dalam pikiran anda Kehidupan berohani yang akan mengubah kehidupan anda
Sumber : Apa Yang Anda TIDAK TAHU Mungkin Sedang MEMBUNUH ANDA!
Pesan Penting untuk Kesehatan Anda
Don Colbert, M.D.
Monday, July 03, 2006
Manajemen Memori Manusia
· Buku atau pustaka sebagai berkas kertas yang dijilid, biasanya diisi karangan literer, merupakan wahana yang efektif bagi penyebar luasan sekaligus pelestarian iptek dan budaya.
· Antara buku dan perpustakaan ada korelasi baik secara etimologi, histories maupun fungsional.
· Buku merupakan komponen utama dlm. sebuah perpustakan.
· Perkembangan perbukuan sejajar dengan perkembangan perpustakaan
Korelasi antara buku dan perpustakaan
· Kata “pustaka” berarti naskah atau buku
· Per – pustaka – an
· Buku = biblos (Yunani)
· Bibliotheek (Belanda)
· Buku = liber (Latin)
· Library (Inggris)
Perkembangan perpustakaan:
· Dewasa ini perpustakaan berkembang menjadi sebuah institusi yang dikembangkan berdasar ilmu yang mandiri dan mengemban fungsi utama sebagai pusat penyimpan memori(informasi) dan penyaji informasi.
· Perpustakaan berdaya guna bagi usaha pengembangan iptek dan budaya , peningkatan kualitas dan martabat SDM.
· Meski perpustakaan modern sudah memanfaatkan media elektronik sbg. sarana informasi namun buku masih merupakan komponen dominan dlm. koleksi perpustakan
Ilmu Perpustakaan: secara metodologis mengkaji hal-hal yang berkaitan dng. Perpustakaan:
· Perpustakaan sebagai institusi,
· Organisasi koleksi perpustakaan,
· Pengawetan/pelestarian koleksi,
· Penyebaran informasi dan jasa perpustakaan,
· Hal-hal yang berkenaan dng.perpustakaan dan jasa perpustakaan
Perkembangan Ilmu Perpustakaan:
· Ilmu Perpustakaan harus direvisi sejalan dengan proses perkembangan yang tak terhindarkan di dunia informasi.
· Perpustakaan konvensional mulai menggabungkan berbagai jenis rekaman memori (records) baru.
· Buku, manuskrip, incunabula mendominasi abad lalu, sekarang dilengkapi bentuk mikro, AV,CD_ROM, file komputer, situs internet
Perkembangan jenis rekaman memori :
· Perubahan teknologi yang menghasilkan rekaman
· Perpustakaan tidak akan lama semata-mata dipandang sbg. penyimpan buku,
· Gambaran ini membuat citra (image) baru yang menyebabkan kesalah fahaman, baik pustakawan maupun pemakai
· Perlu mengkaji ulang konsep ilmu perpustakaan dan kepustakawanan
· Penempatan praktek kepustakawanan dlm. konteks sosial baru
Rekaman Analog dan Digital
· Kehidupan mengajarkan bahwa memori manusia tidak begitu dapat diandalkan,
· Sejarah membuktikan berbagai bentuk rekaman telah membantu kita mengatasi hambatan ini,
· Peradaban manusia telah terekam dengan sendirinya oleh berkas-berkas (records)
· Kegiatan perekaman telah dilakukan oleh praktek kepustakawanan,
· Sebagai memori obyektif (records) merupakan obyek kajian Ilm.Perpustakaan
· Bahan pustaka analog bersifat hiterogin
Rekaman Analog:
· Berkas konvensional adalah berkas analog,
· Bentuk rekaman konvensional adalah rekaman yang tidah dihubungkan dng. teknologi komputer,
· Bentuknya sama antara berkas/rekaman (records) dng. Apa yang dituliskan,
· Analog menunjukkan ke bidang persepsi visual
Rekaman Digital
Hadirnya komputer membawa perubahan yang dramatis dan membawa banyak masalah, bagaimana mengembangkan suatu kriteria yng. seragam dalam mengatasi pustaka analog yang hiterogin.
· Perubahan perekaman analog ke digital dengan komputer berprinsip bilangan biner 1-0
· Proses konvergensi dalam proses digitalisasi berbagai media semakin mudah, ringkas dan efektif dalam penggunaan media tsb
Dampak digitalisasi
· Penggabungan antara teks, gambar, citra, suara, film dll. Memungkinkan penyajian dlm satu sarana media yaitu internet,
· Munculnya era digital akan menciptakan ruang maya (virtual), memungkinkan berubahnya wajah semua industri media massa (e-book/journal, e-news dll.)
· Produk yng semula analog menjadi digital
Dampak Digitalisasi terhadap dunia Perpustakaan
· Perubahan wajah industri media massa digital/virtual menyeret perpustakaan mengikuti derap kemajuan TI,
· Berubahnya produk media massa yang sudah menjadi digital/virtual mengubah koleksi dlm bentuk digital/virtual,
· Koleksi perpustakaan terbacakan mesin dan dapat tampil dlm file komputer harus ada manajemen records untuk kemudahan SSTKI
Wadah Rekaman Memori
· Buku merupakan bentuk fisik yang pertama kali, merupakan bukti fisik yng memungkinkan tempat tinggal sementara bagi memori.
· Kertas dan tinta dapat memindahkan ke bahan lain walau masih bersifat fisik,
· Sistem penulisan dpt dipandang sbg sistem sandi (encoding), berbagai sistem grafis dlm bentuk rekaman memori
Fungsi Buku
· Sebagai memori manusia dan pranata ilmu pengetahuan yang efektif,
· Wadah untuk menampilkan dan memelihara perdaban bangsa, alat penyebaran dan pewarisan nilai budaya,
· Sarana informasi dan komunikasi yang tidak dibatasi ruang dan waktu,
· Buku adalah sebuah dunia ide, membuat cakrawala ilmu pengetahuan bertambah
· Membuat seseorang mengalami mobilitas psikhis yang bebas dari batas keruangan dan waktu,
· Salah satu isi buku terpenting sbg wadah ajaran suci berupa kitab suci sbg dasar identitas religiusitas seseorang,
· Munculnya tradisi tulis dng media “buku” sistem pewarisan iptek, rohani dan budaya berlangsung di masyarakat tidak lagi dipelihara dan diteruskan secara lisan.
· Prasyarat muncul dan berkembangnya iptek dlm semua dimensi
Penutup
· Setelah budaya buku meluas, yang perlu disadari adalah kesadaran atas makna minat membaca,
· Buku merupakan komponen paling penting dalam perilaku membaca,namun yang perlu dibaca sebenarnya tidak semata-mata aksara, angka,atau visualisasi lain yang tercetak di media buku,
· Media kertas dapat digantikan media elektronik dlm bentuk images, namun images tidak mebebaskan melainkan membelenggu fantasi
· Images tidak memberikan ruang bagi daya imaginasi karena seluruhnya mendeterminasi persepsi. Kita tidak perlu memusuhi TV, karena TV ada jasanya.
· Kemanusiaan kita berkembang karena membaca buku, bukan karena nonton TV. Kita berharap agar generasi TV dan instan satisfaction sekarang tetap senang membaca buku supaya dapat mengalami keasyikan dan kebebasan rokhani
Oleh: Purwono (Pustakawan UGM)
Menuju Perpustakaan Digital
Era globalisasi yang lebih mengutamakan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi, menuntut keberadaan perpustakaan yang semakin handal, berkualitas serta up to date untuk dapat berkompetisi dalam kancah persaingan jasa pelayanan. Teknologi informasi telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Sebagai contoh, perkembangan internet dan perkembangan sumber informasi baru yang begitu cepat sehingga menuntut perpustakaan untuk melakukan suatu langkah perubahan, baik dalam bentuk koleksi maupun dalam hal pola pelayanannya.
Tersedianya koleksi perpustakaan yang dapat diperoleh secara cepat, tepat serta pelayanan yang efisien dan efektif akan menunjukkan bahwa perpustakaan serius dalam memperlakukan informasi sesuai dengan percepatan perubahan zaman. Hal ini akan memberi nilai tambah dan dampak positif bagi perpustakaan khususnya tentang penanaman image atau citra perpustakaan yang pada saat sekarang ini masih di nilai rendah di mata masyarakat. Atas dasar asumsi dan bertitik tolak pada perubahan paradigma demikian kemudian eksistensi atau keberadaan perpustakaan pun akan diperhitungkan dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pelayanan jasa informasi yang lain.
Perkembangan Internet
Dalam beberapa tahun terakhir ini, perkembangan dan penggunaan internet semakin meluas di Indonesia, bahkan bisa dikatakan perkembangannya sangat luar biasa. Terbentuknya internet dapat menyatukan suatu network komputer dengan network komputer lainnya atau komunikasi antarkomputer. Internet juga dikenal dengan istilah “net” saja dalam arti adalah jaringan komputer terbesar di dunia. Melalui internet kita bisa berhubungan antarjaringan komputer. Misalnya saja dalam catatan dapat dipaparkan bahwa pada bulan Juli 1993 baru terdapat 13.000 jaringan dan lebih dari 1.766.000 mesin komputer data dari Quatterman dan Mitchell. Sampai tahun 1999 diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta di seluruh dunia. Tentu saja jumlah tersebut kini semakin berlipat bahkan terus bertambah sejalan dengan kebutuhan pengguna dalam menunjang aktivitasnya. Karena sifatnya berupa ruang yang mirip dengan dunia sehari-hari, maka internet bisa disebut sebagai ruang maya (cyberspace).
Melalui internet kita dapat melakukan pertukaran teks dan berbagai pesan dengan berjuta manusia dalam bisnis, akademi, pemerintahan dan organisasi lain dalam jumlah lebih dari berpuluh atau ratusan negara. Internet juga dapat mengakses perangkat lunak, dokumen (seni, politik, kebudayaan), gambar, peta cuaca, katalog perpustakaan dan berbagai informasi dari beberapa tempat di seluruh dunia. Melalui internet pula, bisa dilakukan komunikasi dan pertukaran sumberdaya atau mendapatkan sumberdaya untuk bekerjasama dalam satu lembaga yang berbeda benua, guna mencapai tujuan yang sama.
Pada dasarnya kegunaan internet dapat ditinjau dari dua hal yaitu dari orang yang menggunakan dan informasi yang terkandung di dalamnya. Sebagai alat komunikasi, kegunaan amat penting dari internet adalah berupa pertukaran pesan antarmanusia dengan electronic mail. Dalam jumlah jutaan orang di dunia dapat berkomunikasi tanpa surat, amplop, perangko atau memijat tombol telepon. Internet juga menghubungkan komputer dan fasilitas sharing resources di antara komputer. Dengan internet kita dapat mencari software, essay data dan program dari ribuan titik distribusi di seluruh dunia. Banyak perusahaan yang menyediakan sofware gratis tentang pemasaran, penjualan dan pelayanan pada internet. Peningkatan angka perusahaan pengguna internet semakin banyak, di Indonesia meliputi angka pertumbuhan pengguna internet sebanyak 700% per-tahun.
Kegunaan atau fungsi lain dari internet berupa resources discovery. Navigasi untuk mencari file tertentu, dokumen host atau orang di antara jutaan host bukan hal mudah. Melalui internet maka pelayanan resources discovery (navigator) yang telah dikembangkan akhir-akhir ini dapat membantu masalah tersebut. Pelayanan ini seperti mencari: (a) jutaan indeks dari pustaka yang online, (b) online bookstrores, (c) kata kunci dari full documen untuk mencari ribuan pustaka, (d) ratusan dari katalogi perpustakaan, termasuk Library of Congress dan beberapa katalog universitas ternama, (d) sejumlah dari basis data khusus.
Dari berbagai paparan di atas, dapat dikatakan bahwa internet merupakan suatu jaringan bebas dalam mempertukarkan informasi dan menghubungkan ribuan bahkan jutaan jaringan di seluruh dunia, kini terus bertumbuh-kembang sangat pesat. Sebagai sarana komunikasi, kehadiran internet mestinya membawa dampak di antaranya akan mengubah sikap atau cara manusia bekerja dan dapat dipastikan akan mengubah cara manusia berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Tampaknya sangat mustahil bila kehidupan maupun aktivitas di abad serba modern seperti sekarang harus menghindar dari serbuan informasi tersebut, kecuali jika mengisolirkan diri dari kemajuan peradaban.
Demikian juga dalam hal pengelolaan perpustakaan, mau tidak mau harus mengubah dalam hal cara penyajian informasi yang menjadi koleksinya. Bahan-bahan yang tersedia untuk dikonsumsi sudah selayaknya dibuat dalam bentuk digital. Dewasa ini, ada perusahaan penerbitan yang telah memproduk atau menghasilkan bahan-bahan dalam bentuk digital. Penerbit bahan-bahan digital akan menjadi sesuatu yang lazim dalam waktu dekat ini, apalagi mengingat perkembangan informasi yang relatif cepat sehingga menuntut penerbit untuk mengikuti trend yang ada. Koleksi digital terutama sangat diperlukan oleh lembaga-lembaga yang banyak menghasilkan produk-produk berupa hasil-hasil penelitian, seperti perguruan tinggi atau lembaga riset lainnya.
Internet merupakan suatu pilihan alternatif yang sangat strategis sebagai sarana penunjang dalam penyelenggaraan maupun upaya menuju perpustakaan digital. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor berikut: (1) internet mempunyai networking yang sangat luas, (2) internet mempunyai kapasitas yang tinggi, dan (3) internet tidak hanya merupakan teknologi berakses tetapi juga dapat digunakan untuk berinteraksi, mempunyai sifat one stop shopping. Telah dikembangkannya internet menjadi one stop shopping untuk memperoleh koleksi digital dari seluruh dunia. One stop shopping dimaksudkan “belanja semua kebutuhan di satu tempat” atau lebih luasnya bermakna “solusi satu atap.”
Perpustakaan Digital
Mengapa perpustakaan digital disebut perpustakaan? Menurut Nunberg (dalam Ridwan,1998) perpustakaan dibagi dalam 3 (tiga) kategori yaitu data, metadata, dan proses. Data adalah bahan-bahan pustaka, metadata adalah informasi tentang perpustakaan dan bahan-bahan pustaka, sedangkan proses adalah kegiatan aktif yang dilakukan seluruh elemen perpustakaan.
Pengertian perpustakaan digital dapat dilihat dari beberapa sisi. Dari sisi temu kembali informasi, perpustakaan digital dapat diartikan sebagai kumpulan data base. Dari segi layanan informasi, perpustakaan digital dapat diartikan atau dilihat sebagai penggunaan World Wide Web. Sedangkan dari sisi ilmu perpustakaan, perpustakaan digital bisa dipandang sebagai kelanjutan dari otomasi perpustakaan.
Dari pengertian perpustakaan digital tersebut kemudian timbul berbagai pertanyaan, yang harus dipecahkan bersama. Pertama, bagaimana cara mendigitalisasi bahan pustaka dan menyediakannya untuk dapat dikonsumsi khalayak secara online. Kedua, bagaimana memasukkan informasi baru yang belum memiliki bentuk layaknya seperti koleksi perpustakaan. Ketiga, bagaimana menentukan bahan-bahan dalam perpustakaan digital. Keempat, kapan bentuk digital digunakan dan kapan bentuk digital mengungguli tradisi perpustakaan yang ada sekarang ini.
Peran Pustakawan
Perpustakaan digital memerlukan pustakawan digital. Menjawab semua pertanyaan di atas, jawabannya tentu saja tidak bisa terlepas dari peran pustakawan. Pustakawan harus siap dan selalu bersedia menjawab tantangan perubahan yang terjadi, dengan memiliki kemampuan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang atau akan terjadi. Nilai-nilai yang menjadi landasan profesi pustakawan memang akan tetap sama, tetapi cara-cara serta nilai maupun sikap yang diaplikasikan ke dalam kegiatan dan operasional perpustakaan akan mengalami perubahan secara mendasar. Misi perpustakaan untuk mengumpulkan, mengolah, dan melayani informasi masih tetap relevan, tetapi seiring dengan akselerasi (percepatan) teknologi informasi dan komunikasi seperti belakangan ini maka cara melakukannya mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Itu sebabnya, penyediaan informasi berbasis cetak, walaupun tidak harus secara serta merta dihilangkan, namun dalam rangka memenuhi perubahan zaman yang semakin mengglobal seyogyanya aktivitas perpustakaan dilengkapi dengan sumberdaya berbasis elektronik yang jumlah dan kecepatannya kian meningkat. Perubahan zaman yang ditandai oleh akselerasi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi semakin layak diantisipasi sehingga lebih menjadikan tantangan dalam meningkatkan pelayanan.
Pada tingkat implementasi, selanjutnya para pustakawan perlu terlibat secara langsung dan menerima tanggung jawab dalam lingkungan jaringan informasi. Medium internet telah menawarkan cara-cara terbaru dalam berkomunikasi dan berinteraksi guna memperoleh informasi bagi para pengguna. Dalam hal ini pustakawan perlu mengambil inisiatif untuk mengorganisir dan mengakses informasi yang disajikan melalui medium internet tersebut. Katalog online akhirnya menjadi sebuah pilihan yang cukup layak dikembangkan dan selanjutnya dimuat dalam jaringan lokal dan internet.
Kesimpulan
Perkembangan perpustakaan digital muncul dari pengembangan otomasi perpustakaan dan selanjutnya tersedia bahan-bahan digital seperti CD-ROM. Seiring perkembangan teknologi informatika seperti medium internet sebagai salah satu pilihan alternatif penunjang penyelenggaraan menuju perpustakaan digital, sehingga pelayanan bisa dilakukan secara lebih praktis, cermat, akurat sebagai perpustakaan yang mampu memberikan pelayanan resources discovery seperti mulai dikembangkan untuk mencari jutaan indeks pustaka, online bookstrores, juga memberi layanan untuk mencari ribuan pustaka yang online, serta ratusan dari katalogi perpustakaan dari berbagai institusi ternama. Pada tahap inilah pustakawan diharapkan mulai memperoleh pengalaman dalam hal penyediaan pelayanan secara modern, komunikatif dan profesional.
Perubahan yang terjadi di lingkungan perpustakaan, khususnya menyangkut infrastruktur telah membawa konsekuensi. Di antaranya menuntut para pustakawan untuk selalu menambah wawasan/pengetahuan, mengubah paradigma pelayanan dan perilaku untuk menerjemahkan nilai-nilai tradisional ke dalam jaringan informasi elektronik. Pelayanan perpustakaan berbasis elektronik di era digital ini dimaksudkan untuk mengeliminir ruang, jarak dan waktu dalam rangka memberikan pelayanan yang efisien dan optimal kepada para pengguna/pemakai atau pengunjung.
Daftar Bacaan:
Manusia dan Lingkaran Informasi. 17 Maret 2003. www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=110435&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=285
Pudjiono. 2004. Library News: Perpustakaan Universitas Airlangga Menuju Perpustakaan BerbasisTteknologi Digital. www.lib.unair.ac.id/modules.php?&file=article
Siregar, A. Ridwan. 1998. Perpustakaan Digital: Implikasinya terhadap Pustakawan. www.library.usu.ac.id/news&article&sid=4
Sulistyo-Basuki. 1994. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.
Supriyanto. 1997. Kebijakan Perpustakaan (Makalah Pelatihan Manajemen Perpustakaan Sekolah Propinsi Jawa Tengah), Semarang: Perpustakaan Daerah Jawa Tengah.
_______, 2000. Pintar Melalui Internet, Badan Informasi dan Komunikasi Nasional, Jakarta.

