KOMUNIKASI ILMIAH SEBAGAI AJANG PERTUKARAN INFORMASI SECARA ILMIAH
Oleh: Fitriana Tjiptasari & Erni Susilowati
A. Pendahuluan
Bulan April lalu harian Kompas melaporkan masalah penerbitan majalah
ilmiah atau jurnal sebagai wahana komunikasi ilmiah di lingkungan pendidikan tinggi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono, guru besar Fakultas Sastra UI. Disinyalir bahwa di kalangan dosen, yang seharusnya menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah, terlalu banyak terlibat dalam berbagai aktivitas di luar kampus. Akibatnya, kegiatan penulisan ilmiah yang bertujuan mengembangkan IPTEK menjadi terabaikan. Terbitan jurnal sebagai wahana komunikasi ilmiah dan sekaligus tolak ukur kemajuan IPTEK di lingkungan perguruan tinggi, akhirnya kurang mendapat perhatian
Sejarah tradisi komunikasi ilmiah antar para ilmuwan sudah dimulai di Eropa sejak abad 12 dan 13, dimulai dari Italia kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Utara, dalam sebuah periode yang dikenal dengan nama Renaisans. Renaisans artinya kebangkitan kembali minat pada kebudayaan Yunani dan Romawi. Minat tersebut ditandai dengan munculnya berbagai karya seni dan ilmu. Mereka yang bergerak dalam bidang ilmu seringkali melakukan hubungan dengan ilmuwan lain dengan tujuan mengetahui kegiatan yang dilakukan, penelitian yang sedang dilakukan, memberitahukan hasil penelitian yang tengah dilakukan, mencari informasi dan sebagainya (Sulistyo-Basuki, 1995: 32).
Tradisi komunikasi ilmiah ini didukung oleh oleh semboyan ”publish or perish”, yang demikian melekat dalam budaya akademik mereka. Sehingga faktor inilah yang ikut memacu para ilmuwan untuk melakukan komunikasi dengan ilmuwan lain melalui jurnal ilmiah. Ilmuwan Barat menjadi penyumbang terbesar jurnal ilmiah dunia. Dibuktikan dengan sekitar 3.300 judul ilmiah dari berbagai negara yang tercakup dalam Science Citation Index (SCI), 30,82 persen berasal dari para ilmuwan Amerika. Sementara prosentase ilmuwan Inggris dan Jerman masing-masing adalah 7,92 persen dan 7,18 persen (Darmono, 1996:1).
B. Komunikasi Ilmiah
Perguruan tinggi berperan penting dalam menyebarkan informasi karena sebuah komunikasi informasi merupakan hal mendasar bagi terselenggaranya sebuah hubungan positif yang diharapkan. Hubungan antara peneliti dengan pihak lain; teman sejawat, mahasiswa, orang yang memanfaatkan penelitian. Karena informasi yang digunakan dengan sebaik-baiknya akan mempersatukan masyarakat. Komunikasi informasi harus dikelola dengan baik, karena dalam proses komunikasi terdapat gangguan yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan sesuatu arah komunikasi yang salah.
Komunikasi informasi pada perguruan tinggi yang dilakukan, merupakan serangkaian komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah adalah sebuah sistem dimana penelitian dan kegiatan ilmiah lain yang dilakukan, ditulis, dievaluasi kualitasnya, disebarkan kepada komunitas ilmiah lain, dan dipertahankan untuk kepentingan masa yang akan datang. Komunikasi ilmiah meliputi komunikasi formal, seperti penerbitan jurnal-jurnal ilmiah; dan komunikasi informal seperti penggunaan media elektronik, penyelenggaraan seminar-seminar.
Aktifitas keilmuan -penelitian- yang dilakukan akan disebarkan dan diinformasikan kepada khalayak biasanya menginformasikan tentang hasil penelitian, metode yang digunakan, proses yang dijalankan dan produk yang dihasilkan. Penemuan-penemuan ini di sebarkan dan dievaluasi oleh teman sejawat ataupun oleh mahasiswa. Dalam penyebarannya sangat dibutuhkan keberadaan komunikasi ilmiah formal maupun yang informal, yang berada pada dataran lokal ataupun dalam skala nasional. Menurut Kauffer dan Carley (Fjallbrant, 2005:2), terdapat beberapa aspek akademis kenapa perlu diadakan penulisan hasil penelitian:
1. kepemilikan sebuah ide
2. pengakuan masyarakat terhadap penemuan penelitian
3. klaim atas sebuah hasil penemuan
4. membuat komunitas profesional antara penemu dan pembacanya
C. Komunikasi Ilmiah Formal
Komunikasi ilmiah formal lazimnya dilakukan dengan melalui media-media penerbitan berkala, seperti jurnal ilmiah. Garvey, dalam Communication the Essense of Science, Pergamon Press, 1989 (Darmono, 1996:3) menyatakan bahwa komunikasi ilmiah melalui jurnal ilmiah merupakan hal yang amat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui jurnal ilmiah, temuan baru dari peneliti dan ilmuwan dikomunikasikan ke masyarakat, guna mendapat tanggapan, dikembangkan dan disempurnakan oleh ilmuwan lain, sehingga kesempurnaan dan kebenaran ilmunya menjadi lebih baik. Jika ditarik lebih jauh, kehadiran berbagai jurnal ilmiah dalam masyarakat akademik juga merupakan investasi jangka panjang untuk memacu meningkatkan sumber daya manusia. Setiap penerbitan jurnal mempunyai kekuatan ganda, yaitu sebagai dokumentasi iptek dan sekaligus sarana penyebarannya.
Menurut Fjallbrant (2005:2), terdapat beberapa keuntungan penggunaan penerbitan tercetak untuk menyebarkan komunikasi ilmiah ini:
1. informasi dalam penerbitan tercetak dapat disebarkan lebih luas kepada kelompok-kelompok pembaca
2. informasi yang disajikan lebih detil, seperti deskripsi metode penelitian, penggunaan tabel-tabel, diagram, hasil-hasil penelitian, yang tentunya akan lebih mudah untuk dipahami
3. dokumen tercetak berisikan informasi yang lengkap sehingga memudahkan evaluasi dan penambahan informasi yang dibutuhkan
4. ketika dibutuhkan dokumen ini dapat dengan mudah diserahkan
5. penerbitan karya ilmiah ini sebagai wujud penegakan kepentingan akademik, penelitian, dan bagaimanapun sebagai faktor penting yang memberikan kontribusi positif terhadap peneliti.
Menurut Sulistyo-Basuki (1995:35-36) sebagai sebuah sistem komunikasi, maka komunikasi ilmiah formal memiliki keuntungan sebagai berikut:
- komunikasi formal bersifat terbuka sehingga kehadirannya lebih besar;
- penyebaran informasi relatif lebih luas dan lebih murah daripada komunikasi informal;
- informasi yang disimpan melalui komunikasi formal lebih permanen, menjadi ”arsip umum” dan lebih mudah ditemukan;
- informasi yang disebarkan sudah melalui pemeriksaan wasit majalah, karenanya sudah sudah disesuaikan dengan standar disiplin ilmu yang bersangkutan. Demikian pula dengan cara penyajiannya termasuk penulisan artivgf dan daftar kepustakaan, sudah disesuaikan dengan pedoman yang lazim berlaku untuk membaca dari kalangan tertentu;
- komunikasi formal cenderung mengarah pada kepentingan pembaca luas.
Sedangkan kerugian komunikasi formal adalah seperti:
- usia informasi yang disebarkan melalui komunikasi formal umumnya lebih tua daripada informasi yang disebarkan melalui komunikasi informal. Hal ini terjadi karena frekuensi penerbitan majalah tidak sama, adanya waktu tunggu untuk diterbitkan, dan redaksi harus menunggu naskah yang masuk;
- seringkali terjadi pengulangan-ulangan inti makalah walaupun judulnya berbeda dan majalah yang memuatnya pun berlainan.
Indikator mengenai sumbangan ilmuwan Indonesia dalam komunikasi ilmiah melalui artikel ilmiah bisa dilihat pada indeks SCI. Pada tahun 1994, misalnya, persentase sumbangan ilmuwan Indonesia dalam pemgembangan iptek dunia adalah 0,012 persen. Angka ini jauh di bawah sumbangan ilmuwan negara-negara ASEAN lainnya seperti Filipina :0,035 persen, Malaysia: 0,064 persen, Thailand: 0,086 persen, dan Singapura: 0,179 persen (lihat Scientific American, Agustus 1995) (Darmono; 1996:2).
Masih menurut Fjallbrant, 2005:6, terdapat beberapa kelompok yang mempunyai kepentingan dalam penyebaran komunikasi ilmiah ini:
1. ilmuwan. Mereka berharap bahwa karyanya dapat dipublikasikan, berperan sebagai produsen utama penghasil karya ilmiah.
2. ilmuwan sebagai pembaca hasil karya produsen utama.
3. mahasiswa, yang juga sebagai pembaca.
4. publik yang berminat terhadap hasil karya ilmiah. Berperan sebagai pembaca.
5. penerbit sebagai produsen kedua, yang berkepentingan untuk menerbitkan karya produsen utama.
6. perpustakaan, sebagai tempat di mana koleksi tersebut dikumpulkan dan disebarkan kepada pembaca, berfungsi sebagai fasilitator.
7. penjual, mempunyai kepentingan menjual terbitan tercetak kepada publik, berfungsi sebagai fasilitator.
8. sebuah organisasi yang mengurusi masalah penemuan-penemuan dan pengurusan hak cipta ilmuwan. Berfungsi sebagai konsumen.
9. kelompok industri, yang mempunyai kepentingan memanfaatkan hasil penelitian. Berfungsi sebagai konsumen.
10. kelompok akademik, mempunyai kepentingan untuk memilih dan mengevaluasi staf. Berfungsi sebagai konsumen dan fasilitator.
11. kelompok agama. Pada abad 17-18, kelompok ini sebagai pengontrol ilmuwan ketika mengadakan penelitian.
D. Komunikasi Ilmiah Informal
Perkembangan penerbitan cetak ternyata lamban laut memakan biaya produksi yang sangat tinggi, namun sementara itu penggunaan komputerisasi dan ongkos komunikasi mengalami penurunan. Komunikasi ilmiah informal lazimnya dilakukan dengan menggunakan sebuah media contohnya media elektronik, audio visual. Ada beberapa alternatif media yang daapt digunakan sebagai media penyebaran karya ilmiah dengan menggunakan penerbitan elektronik. Yang termasuk ke dalamnya sebagai contoh disket, CD-ROM, CD-I, atau pembuatan full teks tanpa memasukkan grafik, table, atau gambar, yang kemudian dilayankan secara online melalui sistem jaringan
Menurut Sulistyo-Basuki (1995:37) komunikasi ilmiah informal memiliki beberapa keuntungan seperti:
- informasi yang dipencarkan relatif lebih muda usianya dan lebih mutakhir daripada informasi yang disebarkan melalui komunikasi formal. Penyebaran informasi secara informal tidak perlu menunggu saat terbitnya sebuah majalah;
- informasi yang diberikan disesuaikan dengan keperluan pemakai sehingga tidak perlu mengikuti standar tertentu;
- informasi yang diberikan isinya lebih padat dan ringkas daripada informasi melalui komunikasi ilmiah formal karena pada informasi informal terjadi tatap muka antara pemberi informasi dengan pemakai informasi. Terjadi interaksi langsung antara pencetus informasi dan pemakai informasi sehingga memungkinkan penambahan informasi ataupun diskusi informal.
Sedangkan kerugiannya adalah:
- penyebaran informasi terbatas pada hadirin yang kecil jumlahnya;
- informasi yang disebarkan hanya disimpan untuk sementara waktu saja sehingga sulit atau tidak mungkin ditemukan kembali;
- karena penyebaran informasi tidak menggunakan standar tertentu serta tidak tercetak maka tidak ada pembakuan penyebaran informasi mauapun penyajiannya;
- pada komunikasi informal, peranan penyebar informasi lebih dominan daripada penerima informasi.
Pada masa sekarang internet merupakan sebuah solusi, atas alternatif yang baik untuk mengadakan penyebaran atas karya ilmiah. Menurut Fjallbrant (2005:13) ada beberapa kelompok yang memiliki kepentingan terhadap penerbitan jurnal elektronik ini:
- peneliti pada bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan medicine. Mereka bertindak sebagai peneliti (produsen utama) juga konsumen (pembaca)
- dosen-dosen
- mahasiswa
- masyarakat umum yang berminat
- penerbit jurnal
- ahli komputer dan komunikasi
- vendor-agen penjualan buku
- toko buku
- pustakawan, mereka yang bekerja di perpustakaan akan membeli jurnal dalam jumlah yang besar
- universitas, mereka berperan untuk meneliti dan menyeleksi staff
- organisasi penyandang modal, modal sangat diperlukan untuk penelitian, sehingga mereka berperan dalam penelitian ini
- kelompok industri, mereka berperan dalam menggunakan hasil penelitian
- kelompok yang mengurusi masalah hak cipta
- kelompok agama, dewasa ini kelompok agama mempunyai peranan untuk mengontrol lajunya penelitian, seperti contoh penolakan clonning manusia
- politik, kelompok ini berperan untuk melancarkan proses penelitian dengan memanfaatkan teknologi jaringan untuk penyebaran informasinya
Daftar Pustaka
Darmono, 1996. Komunikasi Ilmiah Melalui Jurnal Mengapa Kita Tertinggal?. Dalam http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/08/02/0050.html, diakses pada tanggal 4 Desember 2005, pukul 14.05.
Fjallbrant, Nancy. 2005. Scholarly communication-historical development and new possibilities. Dalam http://www.iatul.org/conference/proceedings/vo107/papers/full/nfpaper.html, diakses pada tanggal 2 januari 2005, pukul 13.20
Sulistyo-Basuki, 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
--------------------, 1995. Komunikasi Ilmiah dan Manfaatnya bagi Tenaga Pengajar dan Mahasiswa. Sebuah makalah dalam Seri Pengembangan Perpustakaan: Mempertanyakan Keberadaan Perpustakaan Kita.

